Satu hari nanti kau akan tahu, kalau aku pernah mencintaimu seperti rekahnya kelopak bunga cherry putih di tepi danau Zurich yang jatuh hati begitu saja pada musim sem. Entah saat itu kita masih bisa saling menatap atau sudah saling jauh.
Aku masih ingat dengan baik, bagaimana kalimat itu hanya membeku dalam kerongkonganku saat kau memelukku penuh perpisahan hari itu. Musim semi yang sama dengan hari ini, putih.
“Aku pasti kembali lagi ” katamu setahun yang lalu.
Dan aku hanya mengangguk, menahan air mataku gugur di musim semi yang wangi rasa kehilangan ini. Lalu mengantar kepergianmu dengan senyum paling manis yang kusematkan sore itu. Langit hampir senja, menatapmu nanar dari sini, di bawah hujan bunga cherry dan kau menjauh, melihat punggungmu ditelan cahaya musim semi.
“Aku menunggumu…” dan suara itu hanya didengar kelopak bunga cherry yang mendarat di pundakku.
Di sini di tepi danau Zurich, ada sebuah pohon cherry dengan kelopak bunga warna putih seperti kerudung gaun pengantin, kaulah yang mengenalkanku dengan tempat rahasia ini. Confoederatio Helvetica—atau orang-orang lebih suka menyebutnya Switzerland—yang biasanya hanya memiliki pohon-pohon berdaun hijau di tepi-tepian danaunya, tapi danau Zurich seperti legenda cinta yang merekah, katamu. Jika datang ke sini hujan kelopak bunga cherry akan menemanimu merayakan musim semi warna putih, aku masih hapal kata-kata pertamamu saat mengajakku ke sini.
Semi >2
Tak terasa sudah ribuan jam aku menunggu, mengamati tiap helai bunga cherry yang meranggas, seolah mereka sambil melafalkan namamu. Memberiku harapan untuk tidak melupakanmu walau hanya setengah detik.
Kelopak bunga cherry masih putih seperti berapa hari lalu aku ke sini, tepi danau Zurich. Aku sempat berkhayal kapan-kapan kita akan duduk di sini lagi berdua, menghitung rindu yang tersemat di tiap helai bunga cherry. Tapi saat kelopak-kelopak bunga cherry putih itu tertiup angin dan gugur menyerupai salju, aku sadar kalau itu hanya selembar harapan tanpa ujung. Musim semi putih di sini, memandangi air danau yang menghijau, menghirup wangi dari angin musim semi. Aku harusnya sadar tak semua rindu akan terbalas. Banyak yang terpaksa gugur meski indah, seperti kelopak bunga cherry di tepi danau Zurich. Aku harusnya bisa lebih peka antara salju yang turun dan kelopak bunga cherry putih yang gugur. Aku harusnya lebih peka antara wangi musim semi dan musim dingin. Ya, lebih peka.
Aku benci keadaan seperti ini, di mana perasaan terlalu sering mencampuri. aku butuh logika yang justru bersembunyi di tumpukan kelopak bunga cherry putih yang meranggas. Kemarin aku seolah tak peduli dengan alasan untuk tetap duduk di sini, di tepi danau Zurich, sambil membayangkan secepatnya kau akan tiba di sini menghampiriku. Sekarang aku merasa kehabisan alasan untuk tetap di sini. Kelopak bunga cherry putih yang meranggas, daun angin musim semi di tepi danau Zurich menyublim, seolah terus mengejekku yang tak tahu menunggu apa. Aku menunggumu! Yang tak juga merasa ditunggu.
Mungkin aku memang tidak sabaran. Andai bisa aku seperti langit dan angin yang tak pernah mengeluh saat musim berubah warna bekali-kali. Mungkin aku memang tidak sabaran menunggumu. Tapi ini sudah April dan belum ada tanda-tanda bel pertemuan ditekan lalu berbunyi memberi aba-aba kau akan sampai di sini. Mungkin aku memang tidak sabaran. Sudah dua tahun yang lalu… ini semi yang kausebutkah? Atau mungkin musim semi tahun depan harusnya? Baiklah aku menunggu lagi… Menunggu semi berikutnya menggenapkan penantian.
Semi >3
Entah ini musim semi yang ke berapa? Yang aku tahu hampir menguap. Pagi masih jauh, saat langit belum mau menyibak selimut hitamnya aku sudah di sini seperti puluhan, ratusan hari kemarin, menunggumu. Beku tertimbun kelopak bunga cherry putih di sini, abadi di tepi danau Zurich. Bagaimana ini, hatiku mulai kepanasan di musim semi yang harusnya wangi? Bagaimana jika aku tiba-tiba ingin menyerah di tengah penantian yang aku sendiri tak tahu ujungnya ini? Bagaimana jika saat itu sudah dekat kau tak kunjung ada di sini, menahanku? Bagaimana kabarmu pun aku tak tahu, burung-burung gereja yang mampir tak kunjung bercerita sempat bertemu kau di tengah jalan, atau burung merpati yang terpogoh-pogoh membawakan aku surat rindu darimu pun tak pernah datang. Tidak ada. Dan puzzle dari kelopak bunga cherry masih kususun, entah akhirnya kenyataan apa yang akan tergambar di sana. Oh ya, aku sudah sulamkan satu syal untuk kado musim dinginmu.
Lelah? Tidak, aku tak punya alasan untuk lelah di sini, karena tiap musim semi bunga cherry itu tak pernah lelah mengingatkan bayangan wajahmu seperti tiket pertemuan yang tersemat di balik kelopak putih itu. Tiket pertemuan tanpa tanggal. Di bawah hujan kelopak bunga cherry putih, di tepian danau Zurich aku hanya dan hanya menunggumu menepi, menemuiku. Menikmati hujan kelopak bunga cherry di sini denganmu, lalu kau akan memberikanku sebuah kotak berisi gaun musim semi dari sulaman kelopak-kelopak bunga cherry, warna putih dengan bercak-bercak warna peach. Dan sebagai gantinya aku kalungkan padamu sebuah syal rajutan tanganku untuk menemanimu melewati musim dingin tanpaku, agar kau selalu ingat denganku. Tapi semi sudah hampir menyusut lalu terganti bulan, bagaimana ini? Sekarang pohon cherry mulai sepi ranting-rantingnya, tertinggal hanya beberapa butir buah cherry kering. Sudah terlalu banyak bunga yang gugur kelopaknya, sudah hampir selesai musim semi warna putih di sini. Sedangkan dalam empat musim, kita hanya punya satu musim untuk ada secuil harapan mengutuhkan pertemuan.
 |
|
Semi >4
Dan tanggal-tanggal di kalender tetap bergulir, konstan dan tak tahu diri, tak peduli denganku yang masih membawa-bawa syal dengan rajutan namamu di salah satu sisinya. Pohon cherry sudah kering dahannya, sesekali salju membekukan rerumputan di sekitarku, mungkin sebentar lagi aku pun membeku di sini.
Mungkin beberapa tahun lagi saat pohon cherry tua ini sudah kelelahan dan tumbang, orang-orang takkan pernah ada yang percaya kalau dulu pernah ada musim semi putih yang hangat, wangi, dan setia di sini.
Begitu juga denganku, takkan pernah percaya dengan bodohnya aku menunggumu dengan jeda berkali-kali musim semi berputar dan semi pergi dan datang lagi, kau tak juga menepi menemuiku. Syal ini lusuh karena terlalu sering kubawa ke mana-mana, berharap menemui tanpa sengaja di sebuah tepi jalan. Dan ternyata tidak.
Mungkin dengan berubahnya puluhan kali musim, pun kau lupa susunan namaku, lupa janji kita enam belas tahun yang lalu…
Dan aku akhiri ini dengan selesainya musim semi tahun ini, rinduku makin ringkih tak sanggup lagi menggenggam penantian lebih dari ini. Aku letakkan syal putih rajutan tanganku ini dengan sulaman namamu di salah satu sisinya. Aku letakkan syal putih ini di dahan cherry yang kering tanpa bunga, pada musim semi kering yang tak lagi putih. Berharap setumpuk angin memaksamu tersesat ke sini dan menemukannya, memaksamu mengingat potongan namaku dan sebuah janji yang tertinggal di sini enam belas tahun lalu.
Aku menjauh diikuti musim yang siap-siap berganti warna, matahari yang sebentar lagi berganti kulit, aku menjauh dengan langkah yang masih saja melafalkan namamu, seperti mantra tanpa jeda.
Maafkan aku yang tak bisa sabar menunggumu kembali ke sini…