Jumat, 19 November 2021

Semanis Ekspetasi dan Sepahit Realita

 Menjadi dewasa itu pilihan, tidak peduli dari segi umur lebih muda atau tua tergantung bagaimana kita untuk menyikapi kondisi dan keadaan yang kita alami..



Aku fikir menjadi orang gede itu enak, bisa ngapain aja, bebas untuk berpendapat, tapi nyatanya kehidupan itu kejam,penuh tuntutan, manipulatif dan lingkungan yang toxic. Dalam keadaan seperti ini sulit menemukan seseorang yang tulus, gak fake, di dunia ini hampir seluruh manusia mungkin sudah mempunyai topeng kehidupan masing-masing.

Dulu, waktu kecil melihat orang gede/tua itu menyenangkan, bisa main kesana kesini, tertawa dan asik untuk bercengkrama, menjadi anak kecil tidak menyenangkan segalanya diatur, orang tua yang terlalu posesif bagiku menyiksa tapi ternyata.. ya semenyenangkan itu menjadi anak kecil, tanpa memikirkan beban kehidupan, tanggung jawab dan hanya bisa menangis dan tertawa.

Jaman era saat ini, apalagi semenjak adanya Pandemi, manusia dan lingkungan terlalu toxic di kehidupan manapun kesehatan mental terancam, semakin banyak orang stress, kurangnya kebersamaan dan manusia yang menjadi individual.

Bersikap bodo amat emang menjadi peran penting dalam kehidupan saat ini, tak perlu mencari pembelaan mengatakan pada semua orang mencari perhatian.


Pada kenyataannya memang kehidupan ini adalah sebuah pilihan, jalan baik atau buruk mana yang akan kamu ambil dengan resiko dan konsekuensi yang hars kamu tanggung atas perbuatanmu.

Kehidupan mengajarkan, bahwa terlalu berharap adalah peluang kekecewaan terbesar, dunia itu fana, hidup adalah persoalan dan masalah, kesabaran adalah kunci dari semua persoalan😊

Jumat, 15 Oktober 2021

MENYAKITKAN

 Semenjak aku menginjak dan merasakan pernikahan, penuh dengan lika liku kehidupan yang aku sudah jalani selama 1,5tahun ini, perasaan dan perbedaan pendapat berdebat saling mengutamakan ego masing-masing, tidak satu frekuensi dengan jalan pikiran satu sama lain.

Rumit, persoalan hidup memang tak semudah seperti yang aku bayangkan, semakin hari semakin aku jalani bahkan aku ingin masa bodo terhadap semuanya, tapi mengapa itu semua berat...



Aku dikarunia seorang anak, yang sebelumnya aku tidak memikirkan bahwa akan secepat itu aku diberi amanah oleh Tuhan, berawal dari hinaan suamiku mengatakan bahwa setelah pernikahan jalan empat bulan aku menjadi bahan olokan ke kerabat dan teman2ku, ia mengatakan bahwa aku belum bisa hamil, itu menyakitkan menyayat hatiku tapi aku diam dan aku berdoa ingin menunjukan bahwa aku tidak mandul aku berdoa berusaha membuktikan dan mewujudkan apa yang suamiku mau, setelah menjalani proses itu Allah mengabulkan dan memberiku amanah, aku hamil, aku lega dan bahagia meski perasaanku campur aduk antara senang, sedih, gelisah tapi aku sedikit tenang bahwa aku bisa memberikan seorang anak yang diinginkan oleh suamiku.

Aku kira selama hamil suamiku akan menjagaku, menyayangiku, ya memang memanjakanku tapi disisi buruknya, jika suamiku marah dan menuruti egonya akulah hal utama yang dikacaukan olehnya, aku pikir aku melakukan kesalahan suamiku akan memakluminya ternyata tidak, aku diolok2 diceritakan ke keluarganya bagaimana aku, dia pikir itu sebuah guyonan yang sepele, tapi aku benar2 sakit hati cuma aku hanya bisa diam memendam dan mengatakan kepada diriku sendiri bahwa aku baik2 saja.

Setelah kelahiran anakku, aku berangan mungkin hidupku akan bahagia dan berwarna tapi Tuhan berkehendak lain, sebagai gantinya Ibuku dipanggil pulang ke Rahmatullah, aku down , perasaanku campur aduk sedih, marah, dan tidak pernah membayangkan bahwa akan berjalan seperti begini..

Hari demi hari aku mencoba menyesuaikan dengan keadaan disekitarku, anakku diasuh oleh mertuaku, peraturan cara mendidik pun aku harus patuh apa kata mertuaku, aku hanya diam, karena suamiku sudah pasti membela ibunya, aku terpaksa untuk merelakan anakku diasuh oleh mertuaku karena ibuku tidak ada, mencari pengasuh lain suamiku tidak mengijinkan karena lebih baik diasuh oleh ibunya daripada harus diasuh oleh orang lain.

Perbedaan cara mengasuh aku dan mertua tidak sama, aku menyarankan dan hanya memberikan masukan kepada mertuaku tapi tetap salah, bukan karena aku membangkang aku hanya ingin mengajari anakku dengan parenting pada jamannya, bukan seperti jaman dulu, tapi ya aku tetap salah dimata suamiku.

Suamiku menghinaku bahwa aku tak berpengalaman untuk mengasuh anak, jadi aku disarankan untuk patuh dan diam saja mengikuti bagaimana mertuaku mengasuh anakku, bukankah perbedaan pendapat itu wajar, bukankah aku sebagai ibunya juga ingin merawat anakku, tapi kenapa suamiku tetap mengaggapku salah, mengapa? karena aku tidak pengalaman, lalu bagaimana aku bisa berpengalaman mengasuh anak jika aku tidak mengasuh anakku sendiri.

Kenapa suamiku tidak bisa berfikir bagaimana perasaanku, saat anak dijauhkan dengan ibunya, aku mengeluh pun suamiku tetap masa bodo, dengan egonya yang tinggi, aku begini karna dituntut dengan keadaan, seandainya suamiku mencukupiku aku hanya ingin mengasuh anakku dengan full time.

Aku wanita pekerja, membantu suami agar kebutuhan dan keinginan tercukupi, tidak mengeluh dan tidak merepotkan suami tapi kenapa aku tetap dipandang sebelah mata dengan suamiku, apapun yang aku lakukan tetap salah bahkan tidak ada benarnya, pendapat orang tuaku saja pun tetap salah dan yang dianggapnya benar adalah hanya orangtuanya saja.

Hidupku benar-benar berat saat ini, tidak ada ibu aku merasa semakin hari semakin beban semuanya kulakukan sendiri, bahkan aku harus tampak baik2 saja tidak ingin orang sekitarku tahu bagaimana keadaanku.

Entah sampai kapan akan terus seperti ini... 


Bahkan diri sendri saja aku bohongi, memaksakan keadaan bahwa untuk terlihat tenang dan baik-baik saja. 💬😫

Rabu, 13 Oktober 2021

PENGHANCUR MENTAL

 Selama 25tahun ini aku menjalani hidupku penuh dengan likaliku ini, kali ini aku benar benar hancur dan tak berdaya, dilumpuhkan dengan keadaan, dihancurkan dengan sebuah harapan, ditusuk dengan orang orang toxic.

Sudah satu tahun lebih aku menjalani sebuah pernikahan, dimana semakin hari semakin beban aku menjalani bersamanya, mencoba memahami mencoba mengerti mencoba semuanya seperti yang dia mau, tapi nyatanya aku semakin hancur dan kacau, pendapatku selalu diacuhkan, apa yang ak ceritakan selalu diabaikan lalu aku harus bagaimana menghadapi seseorang seperti dia

Aku tak pernah terlintas atau bahkan aku tak pernah berdoa mengharapkan suami seperti dia, entah apa Tuhan mempertemukan aku dengannya dengan berujung pernikahan, atau mungkin aku yang mengharapkan ekspetasi terlalu tinggi??

10 Juli 2021, aku kehilangan ibuku, pada waktu bersamaan aku menjadi seorang ibu. Hari demi hari aku jalani semakin hari semakin beban, yaa beban berat untuk hati dan raga, banyak sekali perubahan dan aku perlu penyesuaian untuk segala hal mencoba belajar merelakan, menerima dan mengikhlaskan, aku pikir aku kuat tapi tidak, aku semakin rapuh aku dihancurkan oleh seseorang dalam hidupku bahkan kesedihan dalam diriku sudah tidak dapat terbendung lagi...

Hari demi hari aku mencoba lagi menguatkan diriku tapi nyatanya ya itu tidak sama sekali berhasil bahkan semakin memburuk, bagiku aku sudah kehilangan akal, aku sudah gila dan aku sudah tidak bisa menampung kapasitas egoku, amarahku dalam diriku.



12 Oktober 2021, terjadi perbedaan pendapat aku dan suami, lalu kami cekcok dan terjadi pertengkaran yang mungkin lebih parah dari pertengkaran2 yang sebelumnya selama masa pernikahan ini. Aku lelah bahkan aku merasa aku membenci diriku sendiri, aku membenci semuanya, kenapa Tuhan begitu berat mengujiku saat ini, proses apa yang mendewasakanku sampai aku benar2 seperti ini.

Orang tua dan mertuaku adalah alasan utama aku mempertahankan pernikahan ini, karena sesungguhnya batin ini sudah tak sanggup hidup dengan dia, dia yang menyakitiku, menyiksaku, tapi ya kita sama sama punya ego yang tinggi bahkan tidak mau mengalah satu sama lain, kalau mungkin saja aku sudah tak mempunya orang tua lagi aku akan selesai dengan dia.

Aku takut merusak citra nama keluargaku, sekarang yang aku lakukan hanyalah bertahan dengan keadaan tanpa memedulikan fisik dan psikisku, entah apa yang akan terjadi hari demi hari kedepan aku hanya bisa berharap Tuhan memberikan yang terbaik didalam hidupku.

Aku ini pendosa untuk apa aku terlalu banyak meminta kepada-NYA bahkan langitpun enggan mendengar rintihan keluh kesah dalam hidupku, sudah merasa tidak berguna rasanya aku ingin mengakhiri hidupku, aku capek berada dilingkungan yang toxic, mentalku yang selama ini aku kuatkan sampai akhirnya dititik ini aku sudah tak sanggup meyanggupi semua ini..

Ya Allah Ya Tuhanku, aku merindukan ibuku, aku ingin menceritakan semua yang aku alami, andai saja mungkin jika ibuku masih hidup, hidupku tak akan sekacau seperti ini bahkan mungkin akan lebih baik, tapi yasudah ini semua sudah jalan takdirku, mungkin kedepan Allah bakal kasih tau alesan dan hikmah apa perjalanan cerita hidupku yang sudah aku alami.. 

Aku stress, aku hanya bisa melampiaskan kemarahanku, kesedihanku melalu tulisan cerita ini mungkin sedikit melegakan dan tak apa .


Untuk mental selalu kuat yah dalam kondisi apapun💓