Semenjak aku menginjak dan merasakan pernikahan, penuh dengan lika liku kehidupan yang aku sudah jalani selama 1,5tahun ini, perasaan dan perbedaan pendapat berdebat saling mengutamakan ego masing-masing, tidak satu frekuensi dengan jalan pikiran satu sama lain.
Rumit, persoalan hidup memang tak semudah seperti yang aku bayangkan, semakin hari semakin aku jalani bahkan aku ingin masa bodo terhadap semuanya, tapi mengapa itu semua berat...
Aku dikarunia seorang anak, yang sebelumnya aku tidak memikirkan bahwa akan secepat itu aku diberi amanah oleh Tuhan, berawal dari hinaan suamiku mengatakan bahwa setelah pernikahan jalan empat bulan aku menjadi bahan olokan ke kerabat dan teman2ku, ia mengatakan bahwa aku belum bisa hamil, itu menyakitkan menyayat hatiku tapi aku diam dan aku berdoa ingin menunjukan bahwa aku tidak mandul aku berdoa berusaha membuktikan dan mewujudkan apa yang suamiku mau, setelah menjalani proses itu Allah mengabulkan dan memberiku amanah, aku hamil, aku lega dan bahagia meski perasaanku campur aduk antara senang, sedih, gelisah tapi aku sedikit tenang bahwa aku bisa memberikan seorang anak yang diinginkan oleh suamiku.
Aku kira selama hamil suamiku akan menjagaku, menyayangiku, ya memang memanjakanku tapi disisi buruknya, jika suamiku marah dan menuruti egonya akulah hal utama yang dikacaukan olehnya, aku pikir aku melakukan kesalahan suamiku akan memakluminya ternyata tidak, aku diolok2 diceritakan ke keluarganya bagaimana aku, dia pikir itu sebuah guyonan yang sepele, tapi aku benar2 sakit hati cuma aku hanya bisa diam memendam dan mengatakan kepada diriku sendiri bahwa aku baik2 saja.
Setelah kelahiran anakku, aku berangan mungkin hidupku akan bahagia dan berwarna tapi Tuhan berkehendak lain, sebagai gantinya Ibuku dipanggil pulang ke Rahmatullah, aku down , perasaanku campur aduk sedih, marah, dan tidak pernah membayangkan bahwa akan berjalan seperti begini..
Hari demi hari aku mencoba menyesuaikan dengan keadaan disekitarku, anakku diasuh oleh mertuaku, peraturan cara mendidik pun aku harus patuh apa kata mertuaku, aku hanya diam, karena suamiku sudah pasti membela ibunya, aku terpaksa untuk merelakan anakku diasuh oleh mertuaku karena ibuku tidak ada, mencari pengasuh lain suamiku tidak mengijinkan karena lebih baik diasuh oleh ibunya daripada harus diasuh oleh orang lain.
Perbedaan cara mengasuh aku dan mertua tidak sama, aku menyarankan dan hanya memberikan masukan kepada mertuaku tapi tetap salah, bukan karena aku membangkang aku hanya ingin mengajari anakku dengan parenting pada jamannya, bukan seperti jaman dulu, tapi ya aku tetap salah dimata suamiku.
Suamiku menghinaku bahwa aku tak berpengalaman untuk mengasuh anak, jadi aku disarankan untuk patuh dan diam saja mengikuti bagaimana mertuaku mengasuh anakku, bukankah perbedaan pendapat itu wajar, bukankah aku sebagai ibunya juga ingin merawat anakku, tapi kenapa suamiku tetap mengaggapku salah, mengapa? karena aku tidak pengalaman, lalu bagaimana aku bisa berpengalaman mengasuh anak jika aku tidak mengasuh anakku sendiri.
Kenapa suamiku tidak bisa berfikir bagaimana perasaanku, saat anak dijauhkan dengan ibunya, aku mengeluh pun suamiku tetap masa bodo, dengan egonya yang tinggi, aku begini karna dituntut dengan keadaan, seandainya suamiku mencukupiku aku hanya ingin mengasuh anakku dengan full time.
Aku wanita pekerja, membantu suami agar kebutuhan dan keinginan tercukupi, tidak mengeluh dan tidak merepotkan suami tapi kenapa aku tetap dipandang sebelah mata dengan suamiku, apapun yang aku lakukan tetap salah bahkan tidak ada benarnya, pendapat orang tuaku saja pun tetap salah dan yang dianggapnya benar adalah hanya orangtuanya saja.
Hidupku benar-benar berat saat ini, tidak ada ibu aku merasa semakin hari semakin beban semuanya kulakukan sendiri, bahkan aku harus tampak baik2 saja tidak ingin orang sekitarku tahu bagaimana keadaanku.
Entah sampai kapan akan terus seperti ini...
Bahkan diri sendri saja aku bohongi, memaksakan keadaan bahwa untuk terlihat tenang dan baik-baik saja. 💬😫

Tidak ada komentar:
Posting Komentar