Saat hujan menjelma kata, dan rintik menjelma rindu
Ku lukis setiap kenangan yang telah ku goreskan bersamamu. Di luar, hujan deras dari tadi siang. Aku teringat, kau selalu mengatakan bahwa hujan itu romantis. "kenapa?" aku melempar tanya."karena hujan membuat kita di dekap kehangatan." Jawabmu, seraya tersenyum manis.Ah, kau selalu membuatku di peluk rindu. Hujan telah mengingatkanku pada selingan kebersamaan yang telah ku lalui.
Ku pandangi rintikan anak hujan yang menetas di jendela. Aku seolah melihat kau sedang berseri menawan. Setiap aku mengunjungimu, akan ku bawakan bingkis cerita-ceritaku selama kau tak bersanding di sisiku
Ku pandangi rintikan anak hujan yang menetas di jendela. Aku seolah melihat kau sedang berseri menawan. Setiap aku mengunjungimu, akan ku bawakan bingkis cerita-ceritaku selama kau tak bersanding di sisiku
Nyaris ku teteskan air mata. entah sampai kapan pula aku bercerita tanpa ada tanggapan apapun darimu.Tentang kau dan aku yang membayang genggam, tentang kau dan aku yang selalu bicara rindu.
Adakah waktu mengerti tentang temu? Atau adakah jarak mengerti tentang rindu?
Ini tentang kita yang saling menguatkan. Bukan dengan genggaman atau tatapan tapi justru dengan rindu. Aku dan kau terjebak dalam ruang ruang kosong dimana tak satu pun pintu terbuka untuk mempertemukan dua hati yang disatukan senja.
Kata-kata yang tak bosan kukirimkan padamu, hanya salah satu dari tak banyak cara untuk membiarkan rindu ini berteriak bebas.
Detik-detik yang berlalu diantara perbincangan kita hingga dini hari itu, entah mengapa masih saja belum bisa mengurangi lantangnya jeritan rindu.
Tapi, kita membuktikan bahwa jarak tak selamanya menenggelamkan dekat. Kau dan aku justru menyulam dekat dari jarak yang demikian pekat. Mengapa harus ada air mata rindu jika rindu ini justru melahirkan bahagia? kurasa kuulang betapa aku merindukanmu.
Kata-kata telah luruh di antara rasa yang demikian tak bisa digambarkannya. Kau dan aku selalu saling menitipkan rindu pada semesta. Karena terkadang hanya dengan demikian rindu kita entah mengapa terasa melipat jarak.
Aku harus mengakui, aku mengingkari kata-kataku sendiri. Dulu aku pernah berkata bahwa pembunuh cinta paling kejam adalah jarak. Namun apa dayaku ketika kau menjadikan jarakku denganmu sebagai penumbuh cinta paling indah?
Tak dapat kupungkiri, kekasih mana yang tak merindukan sorot mata pasangannya saat tak saling menatap? Kekasih mana yang tak merindukan senyum hangat pemilik hatinya ketika wajah tak lagi dapat terlihat? Ini lagi yang tak dapat aku dustakan dengan diriku sendiri.
Namun rindu kembali membuktikan kekuatannya. Ternyata tanpa sorot mata yang saling menatap dan senyum yang saling menghangatkan satu sama lain, rindu berkuasa menyuburkan rasa.
Kau dan aku larut dalam dekap hangat rindu berusaha tak memenjarakan diri diantara ragu dan pikiran-pikiran tak menentu. Kita akan selalu saling menggenggam bukan? Meski tak pernah secara fisik, namun siapa yang bisa melepaskan eratnya hati yang saling menggenggam?
Saat ini kau dan aku mungkin belum merdeka dari rindu, akan tetapi ada hati yang lebih mengerti tentang kemerdekaannya dari sepi. Ada hati yang lebih paham tentang rasa yang menolak pergi, ada hati yang lebih erat membekap diri dari rindu yang tak ingin lenyap.
Saat ini kau dan aku mungkin belum merdeka dari rindu, akan tetapi ada hati yang lebih mengerti tentang kemerdekaannya dari sepi. Ada hati yang lebih paham tentang rasa yang menolak pergi, ada hati yang lebih erat membekap diri dari rindu yang tak ingin lenyap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar